Konsep Medis Hiperglikemia
Definisi
Hiperglikemia merupakan keadaan peningkatan glukosa darah dari pada rentang kadar gula puasa normal 80-90 mg/dl darah, atau rentang non puasa sekitar 140-160 mg/100 ml darah (Elizabeth J. Corwin 2001).
Hiperglikemia terjadi Hiperglikemi terjadi ketika glukosa tidak dapat dikirimkan ke sel-sel karena kurangnya insulin . Tanpa adanya karbohidrat untuk bahan bakar selular , hepar akan mengubah simpanan glikogennya menjadi glukosa ( glikogenesis ) dan peningkatan biosintesis glukosa. Namun begitu respon ini akan memburuk situasi dangan meningkatkan kadar glukosa darah semakin tinggi.
Etiologi
Penyebab tidak diketahui dengan pasti tapi umumnya diketahui kekurangan insulin adalah penyebab utama dan faktor herediter yang memegang peranan penting. Pengangkatan pancreas, pengrusakan secara kimiawi sel beta pulau langerhans.
Faktor predisposisi herediter, obesitas.
Faktor imunologi; pada penderita hiperglikemia khususnya DM terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Respon ini merupakan repon abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggap sebagai jaringan asing.
Stres yang ekstrim
Manifestasi Klinis
Gejala awal umumnya yaitu (akibat tingginya kadar glukosa darah)
Polipagi
Polidipsi
Poliuri
Kelainan kulit, gatal-gatal, kulit kering
Rasa kesemutan, kram otot
Visus menurun
Penurunan berat badan
Kelemahan tubuh dan luka yang tidak sembuh-sembuh.
Komplikasi
Komplikasi hiperglikemi dibagi menjadi 2 kategori yaitu :
Komplikasi akut
Komplikasi metabolic
Ketoasidosis diabetic
Koma hiperglikemik hiperismoler non ketotik
Hipoglikemia
Asidosis lactate
Infeksi berat
Komplikasi kronik
Komplikasi vaskuler
Makrovaskuler : PJK, stroke , pembuluh darah perifer
Mikrovaskuler : retinopati, nefropati
Komplikasi neuropati
Neuropati sensori motorik
Neuropati otonomik
Impotensi
Gangguan refleks kardiovaskuler
Campuran vascular neuropati : ulkus kaki
Komplikasi pada kulit
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis dapat dibuat dengan gejala-gejala diatas + GDS > 200 mg% (Plasma vena). Bila GDS 100-200 mg% → perlu pemeriksaan test toleransi glukosa oral. Kriteria baru penentuan diagnostik DM menurut ADA menggunakan GDP > 126 mg/dl.
Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi hiperglikemia adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dan upaya mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropati.
Ada 4 komponen dalam penatalaksanaan hiperglikemia :
Diet
Komposisi makanan :
Karbohidrat = 60 % – 70 %
Protein = 10 % – 15 %
Lemak = 20 % – 25 %
Jumlah kalori perhari
Antara 1100 -2300 kkal
Kebutuhan kalori basal :
Laki – laki : 30 kkal / kg BB
Perempuan : 25 kkal / kg BB
Penilaian status gizi :
BB
BBR = x 100 %TB – 100
Kurus : BBR 110 %
Obesitas bila BBRR > 110 %
Obesitas ringan 120% – 130 %
Obesitas sedang 130% – 140%
Obesitas berat 140% – 200%
Obesitas morbit > 200 %
Jumlah kalori yang diperlukan sehari untuk penderita DM yang bekerja biasa adalah :
Kurus : BB x 40 – 60 kalori/hari
Normal (ideal) : BB x 30 kalori/hari
Gemuk : BB x 20 kalori/hari
Obesitas : BB x 10 – 15 kalori/hari
Latihan jasmani
Penyuluhan
Dilakukan pada kelompok resiko tinggi :
Umur diatas 45 tahun
Kegemukan lebih dari 120 % BB idaman atau IMT > 27 kg/m
Hipertensi > 140 / 90 mmHg
Riwayat keluarga DM
Dislipidemia, HDL 250 mg/dl
Darah TGT atau GPPT ( TGT : > 140 mg/dl – 2200 mg/dl), glukosa plasma puasa derange / GPPT : > 100 mg/dl dan < 126 mg/dl)
Obat berkaitan Hipoglikemia
Obat hipoglikemi oral
Sulfoniluria : Glibenglamida, glikosit, gliguidon, glimeperide, glipizid.
Biguanid (metformin)
Hon su insulin secretagogue ( repakglinide, natliglinide)
Inhibitor glucosidase
Tiosolidinedlones
Asuhan Keperawatan Hiperglikemia
Pengkajian Keperawatan
Aktivitas / Istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak / berjalan. Kram otot, tonus otot menurun. Gangguan tidur / istirahat.
Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas.
Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat hipertensi ; IM akut. Klaudikasi, kebas, dan kesemutan pada ekstremitas. Ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama.
Tanda : Takikardia. Perubahan tekanan darah postural ; hipertensi. Nadi yang menurun / tak ada. Distritmia. Krekels ; DVJ (GJK).
Kulit panas, kering, dan kemerahan ; bola mata cekung.
Integritas ego
Gejala : Stres; tergantung pada orang lain. Masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi.
Tanda : Ansietas, peka rangsang.
Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia. Rasa nyeri / terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru / berulang.
Nyeri tekan abdomen. Diare.
Tanda : Urine encer, pucat, kuning ; poliuri (dapat berkembang menjadi oliguria / anuria jika terjadi hipovolemia berat). Urine berkabut, bau busuk (infeksi). Abdomen keras, adanya asites. Bising usus lemah dan menurun ; hiperaktif (diare).
Makanan / Cairan
Gejala : Hilang nafsu makan. Mual / muntah. Tidak mengikuti diet ; peningkatan masukan glukosa / karbohidrat. Penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari / minggu. Haus. Penggunaan diuretik (tiazid).
Tanda : Kulit kering / bersisik, tugor jelek. Kekakuan / distensi abdomen, muntah. Pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolik dengan peningkatan gula darah). Bau halotosis / manis, bau buah (napas aseton).
Neurosensori
Gejala : Pusing / pening. Sakit kepala. Kesemutan, kebas kelemahan pada otot. Parestesia.vGangguan penglihatan.
Tanda : Disoreantasi; mengantuk, letargi, stupor / koma (tahap lanjut). Gangguan memori (baru, masa lalu); kacau mental. Refleks tendon dalam (RTD) menurun (koma). Aktivitas kejang (tahap lanjut dari DKA).
Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang / nyeri (sedang / berat).
Tanda : Wajah meringis dengan palpitasi ; tampak sangat berhati-hati
Pernapasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan / tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi / tidak).
Tanda : Lapar udara. Batuk, dengan / tanpa sputum purulen (infeksi).
Frekuensi pernapasan.
Keamanan
Gejala : Kulit kering, gatal ; ulkus kulit.
Tanda : Demam, diaforesis. Kulit rusak, lesi / ulserasi. Menurunnya kekuatan umum / rentang gerak. Parestesia /paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam).
Seksualitas
Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi). Masalah impoten pada pria ; kesulitan orgasme pada wanita.
Diagnosa
Defisit volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotic akibat hiperglikemia.
Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin.
Resiko infeksi berhubungan dengan kadar glukosa darah tinggi.
Resiko tinggi terhadap perubahan sensori perseptual (penglihatan, pendengaran) berhubungan dengan perubahan kimia endogen (ketidakseimbangan glukosa-insulin dan elektrolit).
Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.
Intervensi Keperawatan
Defisit volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotic akibat hiperglikemia.
Batasan karakteristik :
Peningkatan urin output
Kelemahan, rasa haus, penurunan BB secara tiba-tiba.
Kulit dan membran mukosa kering, turgor kulit buruk.
Hipotensi, takikardia, penurunan capillary refill.
Kriteria Hasil :
Tanda vital stabil (nadi 80-88 x/menit, tekanan datrah 100-140/80-90 MmHg, suhu tubuh 36,5-37,40C, respiratory rate 20-22 x/menit).
Nadi perifer teraba pada arteri radialis, arteri brakialis, arteri dorsalis pedis.
Turgor kulit dan capillary refill baik dibuktikan dengan capillary refill kurang dari 2 detik.
Keluaran urine dalam kategori aman (lebih dari 100cc/hari sampai batas normal 1500cc-1700cc/hari).
Kadar elektrolit urin dalam batas normal dengan nilai natrium 130-220meq/24 jam, kalium 25-100 meq/24 jam, klorida 120-250 meq/liter, magnesium 1,2-2,5 mg/dl.
Intervensi Rasional
Pertahankan untuk memberikan cairan 1500-2500 ml atau dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan cairan melalui oral sudah dapat diberikan. Mempertahankan komposisi cairan dalam tubuh, volume sirkulasi dan menghindari over load jantung .
Pantau masukan dan pengeluaran, catat berat jenis urin. Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti dan membaiknya fungsi ginjal.
Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tekanan darah. Penurunan volume cairan darah (hipovolemi) akibat dieresis osmosis dapat dimanifestasikan oleh hipotensi, takikardi, nadi teraba lemah.
Pantau suhu, warna, turgor kulit, dan kelembabannya. Dehidrasi yang disertai demam akan teraba panas, kemerahan, dan kering di kulit. Sedangkan penurunan turgor kulit sebagai indikasi penurunan volume cairan pada sel.
Pantau nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membrane mukosa. Nadi yang lemah, pengisian kapiler yang lambat sebagai indikasi penurunan cairan dalam tubuh. Semakin lemah dan lambat dalam pengisian, semakin tinggi derajat kekurangan cairan.
Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin.
Batasan Karakteristik :
Berat badan tidak normal (lebih rendah 10% dari berat badan ideal).
Lingkar lengan < 10 cm
Kelemahan, mudah lelah, tonus otot buruk
Kadar gula darah > 150 mg/dl
Kriteria hasil :
Pasien tidak lemah atau penurunan tingkat kelemahan
Peningkatan berat badan atau berat badan ideal/normal
Lingkar lengan meningkat atau mendekati 10 cm
Nilai laboratorium hemoglobin untuk pria 13 -16 gr/dl, untuk wanita 12-14 gr/dl.
GDS 60-110 mg/.dl, kolesterol total 150-250 mg/dl, protein total 6-7 gr/dl.
Intervensi Rasional
Berikan pengobatan insulin secara teratur dengan teknik intravena secara intermitten atau secara kontinyu. Insulin regular memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan ke dalam sel, pemberian melalui intravena merupakan rute pilihan utama karena absorbs dari jaringan sub kutan mungkin tidak menentu/sangat lambat.
Berikan diet 60% karbohidrat, 20% protein, dan 20% lemak dan penataan makan dan pemberian makanan tambahan.
Intake kompleks karbohidrat(jagung, wortel, brokoli, buncis, gandum) berdampak pada penekanan kadar glukosa darah, kebutuhan insulin, menurunkan kadar kolesterol, dan meningkatkan rasa kenyang.
Timbang berat badan atau ukur lingkar lengan setiap hari sesuai indikasi. Mengkaji indikasi terpenuhinya kebutuhan nutrisi dan menentukan jumlah kalori yang harus dikonsumsi.
Libatkan keluarga pasien dalam memantau waktu makan, jumlah nutrisi. Meningkatkan partisipasi keluarga dan mengontrol masukan nutrisi sesuai dengan kemampuan untuk menarik glukosa dalam sel.
Pantau tanda-tanda hipoglikemi (perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala, pusing). Karena metabolism karbohidrat mulai terjadi, gula darah akan berkurang dan sementara pasien tetap diberikan insulin maka hipoglikemi dapat terjadi.
Pantau pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah, aseton, pH, dan HCO3. Gula darah akan menurun perlahan dengan penggunaan terapi insulin terkontrol. Dengan pemberian insulin dosis optimal glukosa dapat masuk ke dalam sel dan digunakan untuk sumber kalori. Peningkatan aseton, pH, dan HCO3 sebagai indikasi kelebihan bahan keton.
Resiko infeksi berhubungan dengan kadar glukosa darah tinggi.
Batasan karakteristik :
Angka leukosit > 11.000 ul
Suhu tubuh kadang mengalami periode naik dari 370C
Akral teraba hangat/panas
GDS > 150 gr/dl
Glukosa urin positif
Kriteria hasil :
Tidak terdapat tanda-tanda peradangan dan infeksi seperti rubor, calor, dolor, tumor, fungtioleisa, dan angka leukosit dalam batas 5000-11000 ul.
Suhu tubuh tidak tinggi (36,50C – 370C)
Kadar GDS 60-100 mg/dl
Glukosa urin negative
Intervensi Rasional
Berikan pengobatan insulin secara teratur dengan teknik intravena secara intermitten atau secara kontinyu Insulin regular memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan ke dalam sel, pemberian melalui intravena merupakan rute pilihan utama karena absorbs dari jaringan sub kutan mungkin tidak menentu/sangat lambat
Pantau pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah, aseton, pH, dan HCO3 Gula darah akan menurun perlahan dengan penggunaan terapi insulin terkontrol. Dengan pemberian insulin dosis optimal glukosa dapat masuk ke dalam sel dan digunakan untuk sumber kalori. Peningkatan aseton, pH, dan HCO3 sebagai indikasi kelebihan bahan keton.
Libatkan keluarga pasien dalam memantau waktu makan, jumlah nutrisi Meningkatkan partisipasi keluarga dan mengontrol masukan nutrisi sesuai dengan kemampuan untuk menarik glukosa dalam sel
Resiko tinggi terhadap perubahan sensori perseptual (penglihatan, pendengaran) berhubungan dengan perubahan kimia endogen (ketidakseimbangan glukosa-insulin dan elektrolit).
Batasan karakteristik :
Pasien mengeluh penglihatannya kabur atau diplopia
Visus dengan snellen card kurang dari 6 meter
Pasien mengeluh kepalanya pusing
Pasien mengeluh telinganya berdenging atau tidak jelas mendengar
Pasien mengeluh letih, pelupa
Nilai laboratorium natrium darah < 135 meq/dl
Kalsium darah < 3,5 meq/l
Klorida darah < 100 meq/l
Kriteria evaluasi :
Pasien tidak mengeluh penglihatannya kabur/diplopia lagi
Visus 6/6
Nilai laboratorium terkait eksitasi persarafan dalam batas : natrium 135-147 meq/l, kalsium darah 9-11 mg/dl, kalium darah 3,5-5,5 meq/l, klorida darah 100-106 meq/l.
Intervensi Rasional
Pastikan akses penggunaan alat bantu sensori , seperti alat bantu dengar, dan kacamata. Meningkatkan pendengaran dan penglihatan yang masih tersisa.
Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi dan secara bertahap dinaikkan derajatnya. Meningkatkan keamanan pasien untuk beraktivitas. Aktivitas dapat meningkatkan sirkulasi dan fungsi jantung.
Buat jadwal intervensi keperawatan bersama pasien agar tidak mengganggu waktu istirahat pasien. Meningkatkan tidur dapat menurunkan rasa letih dan dapat memperbaiki daya fikir.
Pantau tanda-tanda vital dan status mental. Sebagai dasar untuk membandingkan temuan abnormal, seperti suhu yang meningkat dapat mempengaruhi fungsi mental.
Pantau pemasukan elektrolit melalui makanan maupun minuman. Meningkatkan eksitasi persarafan dan mencegah kelebihan elektrolit.
Pantau nilai laboratorium seperti glukosa darah, elektrolit, ureum kreatinin. Ketidakseimbangan nilai laboratorium ini dapat menurunkan fungsi mental.
Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.
Batasan karakteristik :
Pasien mengeluh badannya terasa lemah
Skor kekuatan otot ekstremitas baik kanan dan kiri, atas maupun bawah kurang dari 4.
Ketidakmampuan untuk melakukan kegiatan harian seperti mandi, gosok gigi, berjalan.
Pasien terlihat terhuyung atau mau jatuh saat berdiri
Kriteria hasil :
Pasien mengatakan badannya tidak lemah lagi.
Skor kekuatan otot ekstremitas kanan, kiri, atas, serta bawah 5.
Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas seperti mampu berdiri dan berjalan.
Intervensi Rasional
Buat jadwal perencanaan dengan pasien dan indikasi aktivitas yang menimbulkan kelelahan Aktivitas akan lebih terarah dan menghindari kelelahan yang berlebihan
Berikan aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup/tanpa diganggu Memberi kesempatan untuk mencukupkan produksi energi untuk aktivitas
Tekankan pentingnya mempertahankan periksaan gula darah setiap hari Membantu menciptakan gambaran nyata dari produksi energy metabolic dari unsur glukosa
Pantau nadi, frekuensi pernapasan dan tekanan darah sebelum/sesudah melakukan aktivitas Mengindikasikan tingkat pemenuhan energi dengan tingkat aktivitas
Pantau aktivitas pasien dan jumlah bahan energy yang masuk Aktivitas yang tidak sesuai dengan jumlah energi yang mempu diproduksi pasien dapat meningkatkan kelelahan
Implementasi (Pelaksanaan dari Intervensi)
E v a l u a s i
Tanda vital stabil dan kadar elektrolit urin dalam batas normal.
Pasien tidak lemah dan berat badan ideal/normal.
Tidak terdapat tanda-tanda peradangan dan infeksi
Pasien tidak mengeluh penglihatannya kabur (visus 6/6)
Pasien mengatakan badannya tidak lemah l
DAFTAR PUSTAKA
Reevers, Charlene J, et all. 2000. Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : Salemba Medica.
Smeltzer, Suzanne C. 2000. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
http://nurse87.wordpress.com/2009/06/17/. Asuhan Keperawatan Dengan Hiperglikemia. Diakses pada, tanggal 12 Meil 2012. www.google.com.
Definisi
Hiperglikemia merupakan keadaan peningkatan glukosa darah dari pada rentang kadar gula puasa normal 80-90 mg/dl darah, atau rentang non puasa sekitar 140-160 mg/100 ml darah (Elizabeth J. Corwin 2001).
Hiperglikemia terjadi Hiperglikemi terjadi ketika glukosa tidak dapat dikirimkan ke sel-sel karena kurangnya insulin . Tanpa adanya karbohidrat untuk bahan bakar selular , hepar akan mengubah simpanan glikogennya menjadi glukosa ( glikogenesis ) dan peningkatan biosintesis glukosa. Namun begitu respon ini akan memburuk situasi dangan meningkatkan kadar glukosa darah semakin tinggi.
Etiologi
Penyebab tidak diketahui dengan pasti tapi umumnya diketahui kekurangan insulin adalah penyebab utama dan faktor herediter yang memegang peranan penting. Pengangkatan pancreas, pengrusakan secara kimiawi sel beta pulau langerhans.
Faktor predisposisi herediter, obesitas.
Faktor imunologi; pada penderita hiperglikemia khususnya DM terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Respon ini merupakan repon abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggap sebagai jaringan asing.
Stres yang ekstrim
Manifestasi Klinis
Gejala awal umumnya yaitu (akibat tingginya kadar glukosa darah)
Polipagi
Polidipsi
Poliuri
Kelainan kulit, gatal-gatal, kulit kering
Rasa kesemutan, kram otot
Visus menurun
Penurunan berat badan
Kelemahan tubuh dan luka yang tidak sembuh-sembuh.
Komplikasi
Komplikasi hiperglikemi dibagi menjadi 2 kategori yaitu :
Komplikasi akut
Komplikasi metabolic
Ketoasidosis diabetic
Koma hiperglikemik hiperismoler non ketotik
Hipoglikemia
Asidosis lactate
Infeksi berat
Komplikasi kronik
Komplikasi vaskuler
Makrovaskuler : PJK, stroke , pembuluh darah perifer
Mikrovaskuler : retinopati, nefropati
Komplikasi neuropati
Neuropati sensori motorik
Neuropati otonomik
Impotensi
Gangguan refleks kardiovaskuler
Campuran vascular neuropati : ulkus kaki
Komplikasi pada kulit
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis dapat dibuat dengan gejala-gejala diatas + GDS > 200 mg% (Plasma vena). Bila GDS 100-200 mg% → perlu pemeriksaan test toleransi glukosa oral. Kriteria baru penentuan diagnostik DM menurut ADA menggunakan GDP > 126 mg/dl.
Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi hiperglikemia adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dan upaya mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropati.
Ada 4 komponen dalam penatalaksanaan hiperglikemia :
Diet
Komposisi makanan :
Karbohidrat = 60 % – 70 %
Protein = 10 % – 15 %
Lemak = 20 % – 25 %
Jumlah kalori perhari
Antara 1100 -2300 kkal
Kebutuhan kalori basal :
Laki – laki : 30 kkal / kg BB
Perempuan : 25 kkal / kg BB
Penilaian status gizi :
BB
BBR = x 100 %TB – 100
Kurus : BBR 110 %
Obesitas bila BBRR > 110 %
Obesitas ringan 120% – 130 %
Obesitas sedang 130% – 140%
Obesitas berat 140% – 200%
Obesitas morbit > 200 %
Jumlah kalori yang diperlukan sehari untuk penderita DM yang bekerja biasa adalah :
Kurus : BB x 40 – 60 kalori/hari
Normal (ideal) : BB x 30 kalori/hari
Gemuk : BB x 20 kalori/hari
Obesitas : BB x 10 – 15 kalori/hari
Latihan jasmani
Penyuluhan
Dilakukan pada kelompok resiko tinggi :
Umur diatas 45 tahun
Kegemukan lebih dari 120 % BB idaman atau IMT > 27 kg/m
Hipertensi > 140 / 90 mmHg
Riwayat keluarga DM
Dislipidemia, HDL 250 mg/dl
Darah TGT atau GPPT ( TGT : > 140 mg/dl – 2200 mg/dl), glukosa plasma puasa derange / GPPT : > 100 mg/dl dan < 126 mg/dl)
Obat berkaitan Hipoglikemia
Obat hipoglikemi oral
Sulfoniluria : Glibenglamida, glikosit, gliguidon, glimeperide, glipizid.
Biguanid (metformin)
Hon su insulin secretagogue ( repakglinide, natliglinide)
Inhibitor glucosidase
Tiosolidinedlones
Asuhan Keperawatan Hiperglikemia
Pengkajian Keperawatan
Aktivitas / Istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak / berjalan. Kram otot, tonus otot menurun. Gangguan tidur / istirahat.
Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas.
Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat hipertensi ; IM akut. Klaudikasi, kebas, dan kesemutan pada ekstremitas. Ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama.
Tanda : Takikardia. Perubahan tekanan darah postural ; hipertensi. Nadi yang menurun / tak ada. Distritmia. Krekels ; DVJ (GJK).
Kulit panas, kering, dan kemerahan ; bola mata cekung.
Integritas ego
Gejala : Stres; tergantung pada orang lain. Masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi.
Tanda : Ansietas, peka rangsang.
Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia. Rasa nyeri / terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru / berulang.
Nyeri tekan abdomen. Diare.
Tanda : Urine encer, pucat, kuning ; poliuri (dapat berkembang menjadi oliguria / anuria jika terjadi hipovolemia berat). Urine berkabut, bau busuk (infeksi). Abdomen keras, adanya asites. Bising usus lemah dan menurun ; hiperaktif (diare).
Makanan / Cairan
Gejala : Hilang nafsu makan. Mual / muntah. Tidak mengikuti diet ; peningkatan masukan glukosa / karbohidrat. Penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari / minggu. Haus. Penggunaan diuretik (tiazid).
Tanda : Kulit kering / bersisik, tugor jelek. Kekakuan / distensi abdomen, muntah. Pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolik dengan peningkatan gula darah). Bau halotosis / manis, bau buah (napas aseton).
Neurosensori
Gejala : Pusing / pening. Sakit kepala. Kesemutan, kebas kelemahan pada otot. Parestesia.vGangguan penglihatan.
Tanda : Disoreantasi; mengantuk, letargi, stupor / koma (tahap lanjut). Gangguan memori (baru, masa lalu); kacau mental. Refleks tendon dalam (RTD) menurun (koma). Aktivitas kejang (tahap lanjut dari DKA).
Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang / nyeri (sedang / berat).
Tanda : Wajah meringis dengan palpitasi ; tampak sangat berhati-hati
Pernapasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan / tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi / tidak).
Tanda : Lapar udara. Batuk, dengan / tanpa sputum purulen (infeksi).
Frekuensi pernapasan.
Keamanan
Gejala : Kulit kering, gatal ; ulkus kulit.
Tanda : Demam, diaforesis. Kulit rusak, lesi / ulserasi. Menurunnya kekuatan umum / rentang gerak. Parestesia /paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam).
Seksualitas
Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi). Masalah impoten pada pria ; kesulitan orgasme pada wanita.
Diagnosa
Defisit volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotic akibat hiperglikemia.
Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin.
Resiko infeksi berhubungan dengan kadar glukosa darah tinggi.
Resiko tinggi terhadap perubahan sensori perseptual (penglihatan, pendengaran) berhubungan dengan perubahan kimia endogen (ketidakseimbangan glukosa-insulin dan elektrolit).
Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.
Intervensi Keperawatan
Defisit volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotic akibat hiperglikemia.
Batasan karakteristik :
Peningkatan urin output
Kelemahan, rasa haus, penurunan BB secara tiba-tiba.
Kulit dan membran mukosa kering, turgor kulit buruk.
Hipotensi, takikardia, penurunan capillary refill.
Kriteria Hasil :
Tanda vital stabil (nadi 80-88 x/menit, tekanan datrah 100-140/80-90 MmHg, suhu tubuh 36,5-37,40C, respiratory rate 20-22 x/menit).
Nadi perifer teraba pada arteri radialis, arteri brakialis, arteri dorsalis pedis.
Turgor kulit dan capillary refill baik dibuktikan dengan capillary refill kurang dari 2 detik.
Keluaran urine dalam kategori aman (lebih dari 100cc/hari sampai batas normal 1500cc-1700cc/hari).
Kadar elektrolit urin dalam batas normal dengan nilai natrium 130-220meq/24 jam, kalium 25-100 meq/24 jam, klorida 120-250 meq/liter, magnesium 1,2-2,5 mg/dl.
Intervensi Rasional
Pertahankan untuk memberikan cairan 1500-2500 ml atau dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan cairan melalui oral sudah dapat diberikan. Mempertahankan komposisi cairan dalam tubuh, volume sirkulasi dan menghindari over load jantung .
Pantau masukan dan pengeluaran, catat berat jenis urin. Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti dan membaiknya fungsi ginjal.
Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tekanan darah. Penurunan volume cairan darah (hipovolemi) akibat dieresis osmosis dapat dimanifestasikan oleh hipotensi, takikardi, nadi teraba lemah.
Pantau suhu, warna, turgor kulit, dan kelembabannya. Dehidrasi yang disertai demam akan teraba panas, kemerahan, dan kering di kulit. Sedangkan penurunan turgor kulit sebagai indikasi penurunan volume cairan pada sel.
Pantau nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membrane mukosa. Nadi yang lemah, pengisian kapiler yang lambat sebagai indikasi penurunan cairan dalam tubuh. Semakin lemah dan lambat dalam pengisian, semakin tinggi derajat kekurangan cairan.
Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin.
Batasan Karakteristik :
Berat badan tidak normal (lebih rendah 10% dari berat badan ideal).
Lingkar lengan < 10 cm
Kelemahan, mudah lelah, tonus otot buruk
Kadar gula darah > 150 mg/dl
Kriteria hasil :
Pasien tidak lemah atau penurunan tingkat kelemahan
Peningkatan berat badan atau berat badan ideal/normal
Lingkar lengan meningkat atau mendekati 10 cm
Nilai laboratorium hemoglobin untuk pria 13 -16 gr/dl, untuk wanita 12-14 gr/dl.
GDS 60-110 mg/.dl, kolesterol total 150-250 mg/dl, protein total 6-7 gr/dl.
Intervensi Rasional
Berikan pengobatan insulin secara teratur dengan teknik intravena secara intermitten atau secara kontinyu. Insulin regular memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan ke dalam sel, pemberian melalui intravena merupakan rute pilihan utama karena absorbs dari jaringan sub kutan mungkin tidak menentu/sangat lambat.
Berikan diet 60% karbohidrat, 20% protein, dan 20% lemak dan penataan makan dan pemberian makanan tambahan.
Intake kompleks karbohidrat(jagung, wortel, brokoli, buncis, gandum) berdampak pada penekanan kadar glukosa darah, kebutuhan insulin, menurunkan kadar kolesterol, dan meningkatkan rasa kenyang.
Timbang berat badan atau ukur lingkar lengan setiap hari sesuai indikasi. Mengkaji indikasi terpenuhinya kebutuhan nutrisi dan menentukan jumlah kalori yang harus dikonsumsi.
Libatkan keluarga pasien dalam memantau waktu makan, jumlah nutrisi. Meningkatkan partisipasi keluarga dan mengontrol masukan nutrisi sesuai dengan kemampuan untuk menarik glukosa dalam sel.
Pantau tanda-tanda hipoglikemi (perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala, pusing). Karena metabolism karbohidrat mulai terjadi, gula darah akan berkurang dan sementara pasien tetap diberikan insulin maka hipoglikemi dapat terjadi.
Pantau pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah, aseton, pH, dan HCO3. Gula darah akan menurun perlahan dengan penggunaan terapi insulin terkontrol. Dengan pemberian insulin dosis optimal glukosa dapat masuk ke dalam sel dan digunakan untuk sumber kalori. Peningkatan aseton, pH, dan HCO3 sebagai indikasi kelebihan bahan keton.
Resiko infeksi berhubungan dengan kadar glukosa darah tinggi.
Batasan karakteristik :
Angka leukosit > 11.000 ul
Suhu tubuh kadang mengalami periode naik dari 370C
Akral teraba hangat/panas
GDS > 150 gr/dl
Glukosa urin positif
Kriteria hasil :
Tidak terdapat tanda-tanda peradangan dan infeksi seperti rubor, calor, dolor, tumor, fungtioleisa, dan angka leukosit dalam batas 5000-11000 ul.
Suhu tubuh tidak tinggi (36,50C – 370C)
Kadar GDS 60-100 mg/dl
Glukosa urin negative
Intervensi Rasional
Berikan pengobatan insulin secara teratur dengan teknik intravena secara intermitten atau secara kontinyu Insulin regular memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan ke dalam sel, pemberian melalui intravena merupakan rute pilihan utama karena absorbs dari jaringan sub kutan mungkin tidak menentu/sangat lambat
Pantau pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah, aseton, pH, dan HCO3 Gula darah akan menurun perlahan dengan penggunaan terapi insulin terkontrol. Dengan pemberian insulin dosis optimal glukosa dapat masuk ke dalam sel dan digunakan untuk sumber kalori. Peningkatan aseton, pH, dan HCO3 sebagai indikasi kelebihan bahan keton.
Libatkan keluarga pasien dalam memantau waktu makan, jumlah nutrisi Meningkatkan partisipasi keluarga dan mengontrol masukan nutrisi sesuai dengan kemampuan untuk menarik glukosa dalam sel
Resiko tinggi terhadap perubahan sensori perseptual (penglihatan, pendengaran) berhubungan dengan perubahan kimia endogen (ketidakseimbangan glukosa-insulin dan elektrolit).
Batasan karakteristik :
Pasien mengeluh penglihatannya kabur atau diplopia
Visus dengan snellen card kurang dari 6 meter
Pasien mengeluh kepalanya pusing
Pasien mengeluh telinganya berdenging atau tidak jelas mendengar
Pasien mengeluh letih, pelupa
Nilai laboratorium natrium darah < 135 meq/dl
Kalsium darah < 3,5 meq/l
Klorida darah < 100 meq/l
Kriteria evaluasi :
Pasien tidak mengeluh penglihatannya kabur/diplopia lagi
Visus 6/6
Nilai laboratorium terkait eksitasi persarafan dalam batas : natrium 135-147 meq/l, kalsium darah 9-11 mg/dl, kalium darah 3,5-5,5 meq/l, klorida darah 100-106 meq/l.
Intervensi Rasional
Pastikan akses penggunaan alat bantu sensori , seperti alat bantu dengar, dan kacamata. Meningkatkan pendengaran dan penglihatan yang masih tersisa.
Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi dan secara bertahap dinaikkan derajatnya. Meningkatkan keamanan pasien untuk beraktivitas. Aktivitas dapat meningkatkan sirkulasi dan fungsi jantung.
Buat jadwal intervensi keperawatan bersama pasien agar tidak mengganggu waktu istirahat pasien. Meningkatkan tidur dapat menurunkan rasa letih dan dapat memperbaiki daya fikir.
Pantau tanda-tanda vital dan status mental. Sebagai dasar untuk membandingkan temuan abnormal, seperti suhu yang meningkat dapat mempengaruhi fungsi mental.
Pantau pemasukan elektrolit melalui makanan maupun minuman. Meningkatkan eksitasi persarafan dan mencegah kelebihan elektrolit.
Pantau nilai laboratorium seperti glukosa darah, elektrolit, ureum kreatinin. Ketidakseimbangan nilai laboratorium ini dapat menurunkan fungsi mental.
Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.
Batasan karakteristik :
Pasien mengeluh badannya terasa lemah
Skor kekuatan otot ekstremitas baik kanan dan kiri, atas maupun bawah kurang dari 4.
Ketidakmampuan untuk melakukan kegiatan harian seperti mandi, gosok gigi, berjalan.
Pasien terlihat terhuyung atau mau jatuh saat berdiri
Kriteria hasil :
Pasien mengatakan badannya tidak lemah lagi.
Skor kekuatan otot ekstremitas kanan, kiri, atas, serta bawah 5.
Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas seperti mampu berdiri dan berjalan.
Intervensi Rasional
Buat jadwal perencanaan dengan pasien dan indikasi aktivitas yang menimbulkan kelelahan Aktivitas akan lebih terarah dan menghindari kelelahan yang berlebihan
Berikan aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup/tanpa diganggu Memberi kesempatan untuk mencukupkan produksi energi untuk aktivitas
Tekankan pentingnya mempertahankan periksaan gula darah setiap hari Membantu menciptakan gambaran nyata dari produksi energy metabolic dari unsur glukosa
Pantau nadi, frekuensi pernapasan dan tekanan darah sebelum/sesudah melakukan aktivitas Mengindikasikan tingkat pemenuhan energi dengan tingkat aktivitas
Pantau aktivitas pasien dan jumlah bahan energy yang masuk Aktivitas yang tidak sesuai dengan jumlah energi yang mempu diproduksi pasien dapat meningkatkan kelelahan
Implementasi (Pelaksanaan dari Intervensi)
E v a l u a s i
Tanda vital stabil dan kadar elektrolit urin dalam batas normal.
Pasien tidak lemah dan berat badan ideal/normal.
Tidak terdapat tanda-tanda peradangan dan infeksi
Pasien tidak mengeluh penglihatannya kabur (visus 6/6)
Pasien mengatakan badannya tidak lemah l
DAFTAR PUSTAKA
Reevers, Charlene J, et all. 2000. Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : Salemba Medica.
Smeltzer, Suzanne C. 2000. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
http://nurse87.wordpress.com/2009/06/17/. Asuhan Keperawatan Dengan Hiperglikemia. Diakses pada, tanggal 12 Meil 2012. www.google.com.
RSS Feed
Twitter
05:52
uNknown
0 comments:
Post a Comment