Friday, 27 February 2015

Belis bagi masyrakat Ladolima timur sudah menjadi kultur atau budaya masyrakat setempat yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Bapak Antonius Siga selaku tua adat Masyrakat setempat dalam wawancara (tanggal 28 Agustus 2012) menjelaskan bahwa latar belakang dari pembelisan itu sendiri itu sebagai persyaratan adat dari masyrakat setempat yang harus dipenuhi atau dilakukan oleh pihak pengambilan gadis (pihak keluarga laki-laki) terhadap pihak pemberi gadis (keluarga dari pihak perampuan). jadi, untuk masyrakat Nagekeo khususnya masyrakat Ladolima Timur belis merupakan tuntutan adat yang harus dipenuhi oleh keluarga dari pihak laki-laki.

Menurut masyrakat setempat yang masih berpegang teguh pada nilai adat istiadat setempat yang diwariskan oleh generasi terdahulu berasumsi bahwa tuntutan belis merupakan sebuah keharusan kultuRAL.

- Makna belis bagi masyrakat Ladolima Timur atau pada masyrakat Nagekeo umumnya

 

*untuk le

Thursday, 26 February 2015

Ladolima adalah sebuah desa di Kecamatan Keotengah Kabupaten Nagekeo Propinsi NTT
Daerah yang subur masyrakat yang ramah seolah-olah menjadikan daerah ini seperti surga. panorama yang indah dan topografi yang menggiurkan nampaknya akan membawa suasana ketenangan apabila berkunjung kesana.


Peristiwa 17 Oktober 1952 adalah peristiwa di mana KSAD (dijabat A.H. Nasution) dan tujuh panglima daerah meminta Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) dibubarkan. Kemal Idris, salah satu dari tujuh panglima, pernah mengarahkan moncong meriam ke Istana. Dalihnya melindungi Presiden Soekarno dari demonstrasi mahasiswa.[1]
Latar belakang
Pemicunya adalah pemilu yang tertunda-tunda yang dianggap hanyalah taktik DPRS (yang didukung Bung Karno) untuk mempertahankan keadaan yang makin parah. Konflik intern militer dan partai-partai menajam, korupsi meluas, dan keadaan keamanan memburuk. Pada 13 Juli 1952, Kolonel Bambang Supeno, orang dekat Bung Karno yang sering keluar-masuk Istana, mengirim surat ke Perdana Menteri Wilopo, Presiden dan DPRS, menyatakan tak mempercayai lagi pimpinan Angkatan Perang, khususnya Angkatan Darat (dipimpin Nasution). Bambang Supeno-lah yang melobi Bung Karno sampai Bambang Sugeng akhirnya mengganti Nasution sebagai KSAD. Nasution dipecat. Tujuh perwira daerah ada yang ditahan dan digeser kedudukannya.[1]
Kronologi peristiwa
Pada tanggal 17 Oktober 1952 terjadi demonstrasi di Jakarta. Semula massa mendatangi gedung parlemen, kemudian mereka menuju Istana Presiden untuk mengajukan tuntutan pembubaran parlemen dan menggantinya dengan parlemen baru serta tuntutan segera dilaksanakan pemilihan umum. Penyebab utama dari peristiwa ini adalah terlalu jauhnya campur tangan kaum politisi terhadap masalah intern Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).[2]
Demonstrasi ini direncanakan Markas Besar Angkatan Darat atas inisiatif Letnan Kolonel Sutoko dan Letnan Kolonel S. Parman. Pelaksanaannya diorganisasi oleh Kolonel dr. Mustopo Kepala Kedokteran Gigi Angkatan Darat dan Perwira Penghubung Presiden, dan Letnan Kolonel Kemal Idris, Komandan Garnisun Jakarta. Seksi Intel Divisi Siliwangi mengerahkan demonstran dari luar Ibukota dengan menggunakan kendaraan truk militer. Pada waktu itu, Pasukan Tank muncul di Lapangan Merdeka, dan beberapa pucuk meriam diarahkan ke Istana Presiden. Peristiwa 17 Oktober 1952 ini diupayakan diselesaikan melalui pertemuan Rapat Collegial (Raco) tanggal 25 Februari 1955 yang melahirkan kesepakatan Piagam Keutuhan Angkatan Darat yang ditandatangani oleh 29 perwira senior Angkatan Darat.[2]
Peristiwa ini bersumber pada kericuhan yang terjadi di lingkungan Angkatan Darat. Kolonel Bambang Supeno tidak menyetujui kebijaksanaan Kolonel A.H. Nasution selaku KSAD. Ia mengajukan surat kepada Menteri Pertahanan dan Presiden dengan tembusan kepada Parlemen berisi soal tersebut dan meminta agar Kolonel A.H. Nasution diganti. Manai Sophian selaku anggota Parlemen mengajukan mosi agar pemerintah membentuk panitia khusus untuk memepelajari masalah tersebut dan mengajukan usul pemecahannya. Hal demikian dirasakan oleh pimpinan AD sebagai usaha campur tangan Parlemen dalam lingkungan AD. Pimpinan AD mendesak kepada Presiden agar membubarkan Parlemen. Desakan tersebut juga dilakukan oleh rakyat dengan mengadakan demonstrasi ke gedung Parlemen (waktu itu masih di Lapangan Banteng Timur) dan Istana Merdeka. Presiden menolak tuntutan pembubaran Parlemen dengan alasan ia tidak mau menjadi diktator, tetapi akan berusaha mempercepat pemilu. Kolonel A.H. Nasution mengajukan permohonan mengundurkan diri dan diikuti oleh Mayjen T.B. Simatupang. Jabatan KSAD digantikan Kolonel Bambang Sugeng.[butuh rujukan]


DirectX 12
DirectX 12
Standar grafis Microsoft DirectX 12 kabarnya memungkinkan menggabungkan dua pengolah grafis yang berbeda dalam satu sistem secara asynchronous. Ini berarti DirectX 12 memungkinkan pengguna membuat setup sistem multi-GPU (Graphics Processing Unit) dari Nvidia GeForce dan AMD Radeon dalam sebuah sistem. Terdengar cukup menarik bukan?
Selama ini konfigurasi multi GPU hanya dapat dilakukan dengan menggunakan grafis dari satu brand saja dengan standar masing-masing, sebut saja AMD Radeon dengan standar CrossFire X atau Nvidia GeForce dengan standar SLI (Scalable Link Interface). Hal ini membuat gabungan multi GPU dari GeForce dan AMD Radeon dalam satu sistem tidak memungkinkan.
Beberapa waktu lalu penggabungan dua grafis dari brand tersebut memungkinkan dengan hadirnya chip Lucid Hydra, tetapi solusi ini kurang populer. Kini Microsoft merilis DirectX 12 API (Applications Programming Interface) yang memungkinkan penggabungan dua kekuatan grafis GeForce dan Radeon dalam sebuah sistem PC.
Penggabungan grafis pada standar DirectX 12 ini tak hanya meliputi Nvidia GeForce dan AMD Radeon saja, tetapi juga Intel HD Graphics. Fitur ini akan menguntungkan PC dengan grafis onboard maupun grafis diskrit. Pengguna tentu akan mendapat lompatan kinerja yang lumayan dari fitur ini, seperti yang dilansir dari VR-Zone (25/02/2015).
Lalu bagaimana cara kerja penggabungan dua grafis pada DirectX 12 ini? Mengingat setiap vendor memiliki arsitektur grafis yang berbeda. DirectX 12 kabarnya mengusung metode yang disebut dengan Split Frame Randering yang memungkinkan pengembang untuk membagi render tekstur dan geometri dan masing-masing GPU dapat bekerja sendiri-sendiri untuk setiap frame.