Friday, 27 February 2015
Thursday, 26 February 2015
08:21
uNknown
Ladolima adalah sebuah desa di Kecamatan Keotengah Kabupaten Nagekeo Propinsi NTT
Daerah yang subur masyrakat yang ramah seolah-olah menjadikan daerah ini seperti surga. panorama yang indah dan topografi yang menggiurkan nampaknya akan membawa suasana ketenangan apabila berkunjung kesana.

Daerah yang subur masyrakat yang ramah seolah-olah menjadikan daerah ini seperti surga. panorama yang indah dan topografi yang menggiurkan nampaknya akan membawa suasana ketenangan apabila berkunjung kesana.

07:58
uNknown
Peristiwa 17 Oktober 1952 adalah peristiwa di mana KSAD (dijabat A.H.
Nasution) dan tujuh panglima daerah meminta Dewan Perwakilan
Rakyat Sementara (DPRS) dibubarkan. Kemal
Idris, salah satu dari tujuh panglima,
pernah mengarahkan moncong meriam ke Istana. Dalihnya melindungi Presiden
Soekarno dari demonstrasi mahasiswa.[1]
Latar
belakang
Pemicunya adalah pemilu yang
tertunda-tunda yang dianggap hanyalah taktik DPRS (yang didukung Bung Karno)
untuk mempertahankan keadaan yang makin parah. Konflik intern militer dan
partai-partai menajam, korupsi meluas, dan keadaan keamanan memburuk. Pada 13
Juli 1952, Kolonel Bambang Supeno, orang dekat Bung Karno yang sering keluar-masuk Istana,
mengirim surat ke Perdana Menteri
Wilopo, Presiden dan DPRS, menyatakan tak mempercayai lagi
pimpinan Angkatan Perang, khususnya Angkatan
Darat (dipimpin Nasution). Bambang
Supeno-lah yang melobi Bung Karno sampai Bambang
Sugeng akhirnya mengganti Nasution sebagai
KSAD. Nasution dipecat. Tujuh perwira daerah ada yang ditahan
dan digeser kedudukannya.[1]
Kronologi
peristiwa
Pada tanggal 17
Oktober 1952 terjadi demonstrasi di Jakarta. Semula massa mendatangi gedung parlemen, kemudian mereka
menuju Istana Presiden untuk mengajukan tuntutan pembubaran parlemen dan
menggantinya dengan parlemen baru serta tuntutan segera dilaksanakan pemilihan
umum. Penyebab utama dari peristiwa ini adalah terlalu jauhnya campur tangan
kaum politisi terhadap masalah intern Angkatan Perang Republik Indonesia
(APRI).[2]
Demonstrasi ini direncanakan Markas
Besar Angkatan Darat atas inisiatif Letnan Kolonel Sutoko dan Letnan Kolonel S.
Parman. Pelaksanaannya diorganisasi oleh
Kolonel dr. Mustopo
Kepala Kedokteran Gigi Angkatan Darat dan Perwira Penghubung Presiden, dan Letnan
Kolonel Kemal Idris, Komandan Garnisun Jakarta. Seksi
Intel Divisi Siliwangi mengerahkan demonstran dari luar Ibukota dengan
menggunakan kendaraan truk militer. Pada waktu itu, Pasukan Tank muncul di
Lapangan Merdeka, dan beberapa pucuk meriam diarahkan ke Istana Presiden.
Peristiwa 17 Oktober
1952 ini diupayakan diselesaikan melalui pertemuan Rapat
Collegial (Raco) tanggal 25
Februari 1955 yang melahirkan kesepakatan Piagam Keutuhan Angkatan Darat
yang ditandatangani oleh 29 perwira senior Angkatan Darat.[2]
Peristiwa ini bersumber pada
kericuhan yang terjadi di lingkungan Angkatan Darat. Kolonel Bambang Supeno
tidak menyetujui kebijaksanaan Kolonel A.H. Nasution selaku KSAD. Ia mengajukan
surat kepada Menteri Pertahanan dan Presiden dengan tembusan kepada Parlemen
berisi soal tersebut dan meminta agar Kolonel A.H. Nasution diganti. Manai Sophian selaku anggota Parlemen mengajukan mosi agar pemerintah
membentuk panitia khusus untuk memepelajari masalah tersebut dan mengajukan
usul pemecahannya. Hal demikian dirasakan oleh pimpinan AD sebagai usaha campur
tangan Parlemen dalam lingkungan AD. Pimpinan AD mendesak kepada Presiden agar
membubarkan Parlemen. Desakan tersebut juga dilakukan oleh rakyat dengan
mengadakan demonstrasi ke gedung Parlemen (waktu itu masih di Lapangan Banteng
Timur) dan Istana Merdeka. Presiden menolak tuntutan pembubaran Parlemen dengan
alasan ia tidak mau menjadi diktator, tetapi akan berusaha mempercepat pemilu.
Kolonel A.H. Nasution mengajukan permohonan mengundurkan diri dan diikuti oleh
Mayjen T.B. Simatupang.
Jabatan KSAD digantikan Kolonel Bambang Sugeng.[butuh rujukan]
05:35
uNknown

Selama ini konfigurasi multi GPU hanya dapat dilakukan dengan menggunakan grafis dari satu brand saja dengan standar masing-masing, sebut saja AMD Radeon dengan standar CrossFire X atau Nvidia GeForce dengan standar SLI (Scalable Link Interface). Hal ini membuat gabungan multi GPU dari GeForce dan AMD Radeon dalam satu sistem tidak memungkinkan.
Beberapa waktu lalu penggabungan dua grafis dari brand tersebut memungkinkan dengan hadirnya chip Lucid Hydra, tetapi solusi ini kurang populer. Kini Microsoft merilis DirectX 12 API (Applications Programming Interface) yang memungkinkan penggabungan dua kekuatan grafis GeForce dan Radeon dalam sebuah sistem PC.
Penggabungan grafis pada standar DirectX 12 ini tak hanya meliputi Nvidia GeForce dan AMD Radeon saja, tetapi juga Intel HD Graphics. Fitur ini akan menguntungkan PC dengan grafis onboard maupun grafis diskrit. Pengguna tentu akan mendapat lompatan kinerja yang lumayan dari fitur ini, seperti yang dilansir dari VR-Zone (25/02/2015).
Lalu bagaimana cara kerja penggabungan dua grafis pada DirectX 12 ini? Mengingat setiap vendor memiliki arsitektur grafis yang berbeda. DirectX 12 kabarnya mengusung metode yang disebut dengan Split Frame Randering yang memungkinkan pengembang untuk membagi render tekstur dan geometri dan masing-masing GPU dapat bekerja sendiri-sendiri untuk setiap frame.
Subscribe to:
Comments (Atom)
RSS Feed
Twitter